BANDARLAMPUNG – Komisi II DPRD Provinsi Lampung mengapresiasi pertumbuhan ekonomi Lampung yang mencapai 5,29 persen pada triwulan II 2026. Meski demikian, pemerintah diingatkan agar tidak hanya berfokus pada capaian statistik, tetapi juga memastikan manfaat pertumbuhan tersebut benar-benar dirasakan masyarakat, terutama petani sebagai penopang utama perekonomian daerah.
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung Fauzi Heri mengatakan, capaian tersebut menunjukkan berbagai kebijakan Pemerintah Provinsi Lampung mulai memberikan hasil positif
"Pertumbuhan ekonomi Lampung sebesar 5,29 persen pada triwulan II 2026 patut diapresiasi. Ini menunjukkan berbagai kebijakan yang ditempuh Pemerintah Provinsi Lampung mulai memberikan hasil positif," ujar Fauzi, Kamis (6/8/2026).
Politisi Fraksi Gerindra itu menegaskan, pemerintah harus memastikan pertumbuhan ekonomi berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
"Namun, saya mengingatkan agar pemerintah tidak hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat, terutama petani yang menjadi tulang punggung ekonomi Lampung," tegasnya.
Fauzi menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian masih menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung, yakni sebesar 28,35 persen. Namun, pertumbuhan sektor tersebut baru mencapai 2,97 persen sehingga perlu menjadi perhatian serius.
Menurutnya, sebagai daerah yang berbasis pertanian, Lampung seharusnya mampu mendorong pertumbuhan sektor tersebut melalui peningkatan produktivitas, efisiensi, dan nilai tambah hasil panen.
Ia juga mengapresiasi program Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal di bidang modernisasi pertanian, khususnya bantuan bed dryer yang dinilai telah memberikan manfaat nyata bagi petani.
"Kami mengapresiasi langkah Gubernur Lampung yang mulai mengembangkan program modernisasi pertanian melalui bantuan bed dryer di sejumlah sentra produksi. Dari hasil pengawasan Komisi II di lapangan, alat tersebut terbukti membantu petani mengurangi kehilangan hasil panen, menjaga kualitas gabah dan jagung, serta meningkatkan posisi tawar saat menjual hasil produksi. Program seperti ini perlu diperluas dan diintegrasikan dengan penguatan gudang, akses pembiayaan, serta industri pengolahan agar manfaatnya semakin besar," katanya.
Selain sektor pertanian, Fauzi juga menyoroti pertumbuhan investasi Lampung yang masih sebesar 3,08 persen. Menurutnya, angka tersebut belum sebanding dengan potensi besar yang dimiliki daerah.
Ia mendorong pemerintah lebih agresif menarik investasi yang berorientasi pada hilirisasi komoditas unggulan seperti singkong, jagung, tebu, kopi, kakao, dan perikanan agar mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah.
"Di sisi lain, kami menilai pertumbuhan investasi yang masih 3,08 persen belum sejalan dengan potensi besar Lampung. Pemerintah harus lebih agresif menarik investasi yang berorientasi pada hilirisasi komoditas unggulan. Lampung tidak boleh terus menjadi pengekspor bahan mentah, tetapi harus menjadi pusat industri pengolahan yang menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat," ujarnya.
Fauzi menegaskan, Komisi II DPRD Lampung akan terus menjalankan fungsi pengawasan agar setiap program ekonomi berjalan tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Target akhirnya bukan sekadar pertumbuhan ekonomi yang tinggi, melainkan meningkatnya kesejahteraan petani, berkembangnya UMKM, bertambahnya investasi produktif, dan naiknya daya saing ekonomi Lampung. Pertumbuhan ekonomi baru bisa disebut berhasil apabila manfaatnya benar-benar dirasakan oleh rakyat," pungkasnya.
