Kemerdekaan Dipertanyakan, Keluarga Parno Bertahan Hidup di Bawah Flyover


BANDARLAMPUNG(M9G) – Kisah haru seorang warga Bandar Lampung yang terpaksa memilih tinggal dibawah kolong jembatan (Flyover) karena memiliki keterbatasan pendapatan kini banyak menuai sorotan masyarakat. 


Ditengah momentum hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Parno (51), bersama istri dan satu orang anaknya mengaku telah tinggal dibawah Flyover selama satu bulan karena tidak memiliki penghasilan yang mencukupi demi bertahan hidup.


"Sebulanan ada bang. Kalau saya aslinya disini bang, di pasar tugu.  Sebelumnya kan lama ngontrak, karena nggak kebayar kontrakannya jadi terpaksa saya bawa istri sama anak kesini," ujar Parno ketika dikonfirmasi, Senin (17/8/2026).


Menanggapi hal itu, masyarakat ikut berkomentar di platform milik Berita+62. Salah satu akun milik @irin selab Ikut serta menanyakan arti dari kemerdekaan.


"Kalau sekarang hari kemerdekaan mereka kapan merdeka ini contoh kecil dalam hal merdeka," tulisnya dalam komentar tersebut.


Selain itu, adapun akun sosial milik @WhyNot juga ikut berkomentar tentang kemerdekaan hanya milik pemangku kepentingan.


"Begini yang dibilang sudah merdeka?? merdeka itu yg punya jabatan, yang susah, makin dibuat susah," tulis akun tersebut.


Lebih lanjut, diakun @madimadani99 juga ikut berkomentar menyoroti pembangunan serta seluruh kebijakan pemerintah daerah. 


"itu contoh bagi pejabat-pejabat yang ada di Lampung jangan bangun yang nggak sesuai dengan anggaran triliunan atau mm-an lihat dongkraknya pada susah semua itu yang perlu diperhatikan," tulisnya.


Sementara itu, ada juga beberapa akun yang berkomentar diplatform tersebut ikut serta menyalahkan keadaan parno. 


Diberitakan sebelumnya, Parno (51), bersama istri dan satu orang anaknya mengaku telah tinggal dibawah Flyover selama satu bulan karena tidak memiliki penghasilan yang mencukupi demi bertahan hidup.


Demi mendapatkan sedikit rupiah untuk bertahan hidup, Parno mengaku seharian berkerja sebagai badut untuk menghibur masyarakat. 


Namun, perjalanan hidupnya demi menghidupi keluarga kecilnya cukup berat. Ia mengaku saat menjadi badut diwilayah kota Bandar Lampung, justru sering mendapatkan tekanan dari berbagai pihak. 


"Usahanya kan kita cuma ngbadut. Jadi pas lagi ditangkep Pol PP terus ya berkurang lah pendapatannya karena takut tadi kan mau ditangkap terus," kata dia.


Ditengah hiruk-pikuk kota Bandar Lampung, Parno mengaku seharian berkerja sebagai badut hanya mencukupi untuk kebutuhan makan sehari-hari.


"kalau sekarang engga nentu bang, kalau dulu bisa Rp100.000- Rp150.000. Tapi sekarang semenjak kejar-kejaran sama pol PP sekitar Rp30.000-Rp50.000. Ya Alhamdulillah cukup untuk makan," katanya.


Tak ingin merepotkan kelurga ataupun kerabat terdekatnya. Parno mengatakan bahwa kemandirian telah menjadi bagian dari harga dirinya. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia memilih bekerja sebagai pengumpul sampah dan barang bekas.


“Keluarga banyak, Bang. Ya sebenarnya mau sih. Cuma kan kita yang pengen mandiri sendiri lah. ngbadut, Bang, ngerongsok,” jelasnya.


Parno mengaku pernah menerima bantuan, meski hanya satu kali dalam setahun. Menurutnya, bantuan tersebut cukup membantu memenuhi kebutuhan keluarga untuk sementara waktu.


“Kalau dari pemerintah sih ya ada lah. Kalau yang namanya tahunan itu dapat. Kalau bulanan nggak ada lah. Yang kayak BLT kemarin, Alhamdulillah dapat, pas masih ngontrak,” ujarnya.


Meski demikian, ia menegaskan tidak ingin sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah. Ia memilih tetap berusaha memenuhi kebutuhan keluarga secara mandiri, meski berharap pemerintah tetap memberikan perhatian kepada masyarakat dalam kondisi serupa.


“Alhamdulillah nggak ada. Bingung kalau kita minta sama pemerintah itu kan tinggal tergantung nasib. Kita kan usaha, ya kan. Kalau kita nggak usaha, ya gimana? Pemerintah sudah,” ucapnya.


Ia juga menceritakan kondisi anaknya yang belum bersekolah karena keterbatasan biaya. Saat ini, anaknya yang telah berusia enam tahun seharusnya mulai memasuki jenjang pendidikan, namun kondisi ekonomi keluarga membuat rencana tersebut harus ditunda.


“Ini enam tahun, mau masuk sekolah TK. Karena nggak punya biaya. Jadi nunggu ada rezeki, nanti diurus lagi buat masuk sekolahnya,” tutupnya.