Di Tengah Perayaan HUT RI, Satu Keluarga di Bandar Lampung Bertahan Hidup di Bawah Flyover

 



BANDARLAMPUNG(M9G) – Di tengah semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, masih terdapat warga yang harus menjalani kehidupan dalam kondisi serba terbatas.


Salah satunya Parno (51), warga Bandar Lampung yang bersama istri dan seorang anaknya terpaksa tinggal di bawah flyover karena kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membayar biaya kontrakan.


Parno mengatakan, keluarganya sudah sekitar satu bulan menempati tempat tersebut. Sebelumnya, mereka tinggal di rumah kontrakan, namun keterbatasan penghasilan membuat biaya sewa tidak lagi mampu dipenuhi.


“Sebulanan ada bang. Kalau saya aslinya di sini, di Pasar Tugu. Sebelumnya kan lama ngontrak, karena nggak kebayar kontrakannya jadi terpaksa saya bawa istri sama anak ke sini,” ujar Parno saat dikonfirmasi, Senin (17/8/2026).


Untuk menghidupi keluarganya, Parno sehari-hari bekerja sebagai badut di sejumlah lokasi di Kota Bandar Lampung. Namun, penghasilannya tidak lagi menentu karena ia mengaku kerap mendapat teguran dan penertiban dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).


“Usahanya kan kita cuma ngbadut. Jadi pas lagi ditangkap Pol PP terus ya berkurang pendapatannya karena takut tadi kan mau ditangkap terus,” katanya.


Menurut Parno, sebelum sering menghadapi penertiban, pendapatannya sebagai badut bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per hari. Kini, penghasilannya rata-rata hanya sekitar Rp30 ribu sampai Rp50 ribu.


“Kalau sekarang nggak tentu, Bang. Kalau dulu bisa Rp100.000-Rp150.000. Tapi sekarang semenjak kejar-kejaran sama Pol PP sekitar Rp30.000-Rp50.000. Ya Alhamdulillah cukup untuk makan,” tuturnya.


Selain menjadi badut, Parno juga mengumpulkan barang bekas untuk menambah penghasilan. Ia mengaku memilih tetap bekerja dan berusaha mandiri daripada terus meminta bantuan kepada keluarga maupun kerabat.


“Keluarga banyak, Bang. Ya sebenarnya mau sih. Cuma kan kita yang pengen mandiri sendiri lah. Ngabadut, Bang, ngerongsok,” ucapnya.


Terkait bantuan pemerintah, Parno mengaku pernah mendapat bantuan, tetapi tidak secara rutin setiap bulan. Bantuan tersebut, menurutnya, cukup membantu ketika diterima.


“Kalau dari pemerintah sih ya ada lah. Kalau yang namanya tahunan itu dapat. Kalau bulanan nggak ada lah. Yang kayak BLT kemarin, Alhamdulillah dapat, pas masih ngontrak,” ungkapnya.


Meski berada dalam kondisi sulit, Parno mengatakan dirinya tidak ingin sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah. Ia tetap berupaya mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.


“Alhamdulillah nggak ada. Bingung kalau kita minta sama pemerintah itu kan tinggal tergantung nasib. Kita kan usaha, ya kan. Kalau kita nggak usaha, ya gimana? Pemerintah sudah,” ujarnya.


Kondisi ekonomi keluarga tersebut juga berdampak pada pendidikan anaknya. Parno menyebut anaknya yang kini berusia enam tahun belum dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang TK karena keterbatasan biaya.


“Ini enam tahun, mau masuk sekolah TK. Karena nggak punya biaya. Jadi nunggu ada rezeki, nanti diurus lagi buat masuk sekolahnya,” katanya.


Kisah Parno menjadi gambaran bahwa di tengah kemeriahan peringatan kemerdekaan, masih ada keluarga yang harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan paling dasar, termasuk tempat tinggal dan pendidikan anak.


Momentum HUT ke-81 RI diharapkan tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap warga yang masih hidup dalam keterbatasan agar dapat merasakan kehidupan yang lebih layak.