Bandarlampung – Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Lampung pada Juni 2026 mengalami kenaikan menjadi 129,90, atau meningkat 1,48 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Komisi II DPRD Lampung berharap tren positif tersebut dapat terus berlanjut sehingga semakin meningkatkan kesejahteraan petani didaerah.
Pernyataan tersebut disampaikan Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung Mikdar Ilyas saat dikonfirmasi di Gedung DPRD, pada Kamis (02/07/2026).
Politisi fraksi Gerindra itu menyebutkan, kenaikan NTP di Provinsi Lampung terus mengalami angka kenaikan yang cukup besar. Namun, Ia mengharapkan kenaikan NTP tersebut terus berjalan sehingga dapat meningkat hingga pucuk tertinggi di Sumatera sebagai Lumbung Pangan.
"Meningkat yang cukup besar, 1,5 persen daripada bulan sebelumnya. Kita harapkan ini bukan hanya di bulan ini saja. Tetapi terus ada peningkatan sehingga pertumbuhan ekonomi Lampung ini, nilai petani Lampung ini, kita harapkan kalau bisa, ini memang tertinggi di Sumatera," ujar Mikdar.
Selain itu, Ia juga berharap bahwa provinsi Lampung dalam 10 tahun kedapan dapat menembus angka 5 besar di Indonesia sebagai lumbung pasokan pangan.
"Syukur-syukur kalau bisa, termasuk harapan saya sebagai anggota Dewan, 10 tahun nanti kita bisa menembus 3 besar atau 5 besar di Indonesia ini," harapnya.
Menurutnya, dengan kondisi Provinsi Lampung yang menjadi penyumbang pasokan pangan tertinggi di Indonesia itu juga akan berdampak kepada pemuda yang mempunyai keinginan untuk bertani.
Sehingga, kata dia, para remaja di Lampung tidak perlu lagi pergi keluar daerah lain untuk mencari pekerjaan. Selama memiliki kemauan untuk bertani, Lampung memiliki peluang yang sangat besar di sektor pertanian dan mampu menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan.
Anggota Komisi II DPRD Lampung Dapil V itu juga menilai, kesejahteraan petani cukup relatif yang bergantung kepada kebijakan pemerintah pusat terhadap hasil pertanian yang dinilai sudah cukup tinggi.
"Mengenai kesejahteraan petani ini relatif. Tapi dengan kita lihat kebijakan perintah pusat, terhadap harga hasil pertanian yang umumnya ditanam di Lampung, seperti padi, jagung, sawit, singkong, kopi, serta lada, yang cukup tinggi ini pasti sudah berdampak pada kesejahteraan petani," Jelasnya.
Lebih lanjut, kata dia, dengan kondisi saat ini para petani tinggal meningkatkan hasil produksinya. Terkait aturan atau kebijakan yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah tidak akan berubah sewaktu-waktu.
"Sekarang ini, bagaimana cara para petani meningkatkan hasil produksi mereka. Kalau aturan yang sudah dibuat pemerintah pusat dan daerah, ini tidak akan berubah. Walaupun tidak berubah, kita harapkan bukan turun, tapi naik. Jadi saya yakin ini akan berdampak pada kesehajteraan petani," Jelasnya.
