Drainase Jadi Sorotan, Banjir Masih Ancam Kawasan Sukarame Meski Kebersihan Lingkungan Dinilai Baik



Bandar Lampung – Kebersihan lingkungan di Kelurahan Sukarame, Kecamatan Sukarame, Kota Bandar Lampung, secara umum dinilai telah mengalami peningkatan. Sistem pengelolaan sampah yang rutin dilakukan oleh petugas kebersihan serta kesadaran sebagian masyarakat dan pedagang dalam menjaga kebersihan menjadi salah satu faktor yang membuat kawasan tersebut tetap terlihat bersih.


Namun di balik kondisi tersebut, persoalan lain masih menjadi ancaman bagi masyarakat, yakni banjir dan genangan air yang kerap terjadi di sejumlah titik, terutama di kawasan depan dan belakang Kampus UIN Raden Intan Lampung.


Hasil observasi dan wawancara yang dilakukan tim pengumpul data menunjukkan bahwa aktivitas masyarakat di kawasan ini cukup tinggi karena menjadi pusat permukiman, perdagangan, dan akses pendidikan. Tingginya aktivitas tersebut menuntut adanya sistem pengelolaan lingkungan yang lebih optimal agar kualitas lingkungan tetap terjaga.


Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat, permasalahan utama yang dihadapi bukan berasal dari sampah yang menumpuk, melainkan kondisi saluran drainase yang belum mampu menampung debit air saat hujan deras sehingga menyebabkan banjir.


Salah seorang juru parkir di kawasan depan Kampus UIN Raden Intan Lampung Bapak Rosali, mengungkapkan bahwa wilayah tersebut pernah mengalami banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar 50 sentimeter setelah hujan turun selama lebih dari dua jam, titik banjir ini berada di depan Perguruan Tinggi UIN Raden Intan Lampung.


"Penyebab utama banjir bukan karena sampah, tetapi saluran drainasenya belum mampu menampung debit air dari wilayah yang lebih tinggi. Drainase di sekitar kampus UIN RIL juga kecil dan sering dipenuhi rumput, dedaunan, serta ranting sehingga aliran air terhambat." Ungkapan bapak rosali, Rabu (22/07/2026). 


Menurut Bapak Rosali genangan air yang terjadi juga menyebabkan jalan cepat rusak dan berlubang, terutama di sekitar Apotek 24 Sukarame, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.


Permasalahan serupa juga disampaikan oleh seorang pedagang cireng yang berada pada titik kawasan depan Kampus UIN Raden Intan Lampung. Ia mengatakan bahwa kondisi lingkungan pada pagi hari sebenarnya cukup bersih karena sampah telah diangkut oleh petugas kebersihan setiap hari bahkan para pedagang dikawasan tersebut membayar iuran kebersihan Rp. 2.000 setiap harinya sebagai bentuk partisipasi dalam menjaga kebersihan lingkungan. Namun, kondisi berubah pada sore hari ketika sampah kembali menumpuk akibat pengangkutan hanya dilakukan
satu kali dalam sehari, ia berharap pemerintah dapat segera melakukan normalisasi drainase.


"Selama saya berjualan belum pernah ada pengerukan lumpur atau pembersihan saluran drainase. Saya berharap pemerintah bisa melakukan normalisasi drainase secara berkala agar genangan air dapat diminimalkan." (Ungkapan pedagang cireng)


Sementara itu, Ketua RT 007 Kelurahan Sukarame menjelaskan bahwa sebagian besar warga telah memanfaatkan layanan pengangkutan sampah atau SOKLI ( Satuan Operasional Kebersihan Lingkungan)
yang dilakukan secara rutin satu hingga dua kali setiap minggu. Meski demikian, ia menilai koordinasi antara masyarakat dan petugas kebersihan masih perlu terus ditingkatkan agar pelayanan tetap berjalan optimal. 


Keluhan mengenai kondisi drainase juga datang dari pedagang cilok yang berjualan di belakang Kampus UIN Raden Intan Lampung. Menurutnya, kawasan tersebut sering tergenang meskipun hujan yang turun tidak terlalu deras.


"Daerah sini sering banjir walaupun hujannya tidak terlalu deras karena drainasenya dangkal dan airnya sulit mengalir. Pemerintah sebaiknya melakukan pendalaman saluran drainase agar aliran air lebih lancar." (Ungkapan pedagang cilok)


Selain persoalan drainase, pedagang tersebut juga menilai bahwa masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat menjadi penyebab masih ditemukannya sampah yang berserakan di sekitar lokasi pada pagi hari khususnya pada titik kawasan belakang Kampus UIN Raden Intan
Lampung.


Hasil penelitian juga menunjukkan adanya perbedaan kondisi antarwilayah. Di Perumahan Griya, sistem pengelolaan sampah dinilai telah berjalan baik dan kawasan tersebut relatif tidak mengalami banjir. Namun, partisipasi masyarakat dalam kegiatan gotong royong masih tergolong rendah sehingga perlu terus ditingkatkan sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.


Berdasarkan keseluruhan hasil observasi, tim peneliti menyimpulkan bahwa persoalan lingkungan di Kelurahan Sukarame saat ini lebih didominasi oleh kondisi infrastruktur drainase yang belum optimal dibandingkan persoalan pengelolaan sampah. Pendangkalan saluran, sedimentasi, rumput liar, serta kapasitas drainase yang terbatas menjadi penyebab utama terjadinya genangan air ketika curah hujan meningkat.


Sebagai solusi, tim peneliti berharap agar pemerintah melakukan normalisasi drainase secara berkala melalui pengerukan sedimentasi, pembersihan rumput liar, serta pelebaran saluran pada titik-titik yang rawan banjir.


 Selain itu, penyediaan tempat sampah yang memadai, pengaktifan kembali program “Jumat Bersih” yang biasanya dilakukan oleh masyrakat, pedagang, dan petugas kebersihan, Dengan peningkatan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dinilai menjadi langkah nyata untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan. 


Serta Kelurahan Sukarame dapat mewujudkan lingkungan yang bebas dari genangan, memiliki sistem drainase yang lebih baik, serta mempertahankan budaya hidup bersih demi kualitas hidup masyarakat yang lebih baik.