Bandar Lampung – Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, mengajak dunia usaha untuk memperkuat hilirisasi sektor pertanian guna mendukung transformasi ekonomi daerah. Ajakan tersebut disampaikan saat membuka Musyawarah Provinsi (Musprov) VIII Asosiasi Pengusaha Indonesia Provinsi Lampung di Ballroom Hotel Emersia, Bandar Lampung, Senin (22/6/2026).
Dalam sambutannya, Gubernur Mirza menegaskan bahwa Apindo merupakan mitra strategis pemerintah dalam mendorong investasi, hilirisasi industri, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif di Provinsi Lampung.
Menurutnya, Lampung memiliki fondasi ekonomi yang kuat karena ditopang sektor pertanian yang selama ratusan tahun menjadi penggerak utama perekonomian daerah. Dengan luas lahan sekitar 3,5 juta hektare yang sebagian besar dimanfaatkan untuk pertanian, Lampung menjadi salah satu penghasil komoditas strategis nasional.
“Provinsi Lampung tumbuh dari sektor pertanian. Kita memiliki potensi besar mulai dari padi, jagung, singkong, nanas, pisang, kopi, tebu hingga berbagai komoditas perkebunan lainnya. Potensi ini harus terus ditingkatkan melalui hilirisasi agar memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat,” ujar Mirza.
Ia menjelaskan, berbagai komoditas unggulan Lampung telah menarik minat investasi di sektor industri pengolahan. Karena itu, Pemerintah Provinsi Lampung menargetkan daerah ini menjadi pusat industri pengolahan pangan dan komoditas berbasis sumber daya alam di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).
Untuk mendukung target tersebut, Pemprov Lampung berkomitmen memberikan kemudahan perizinan serta menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi para pelaku usaha.
Gubernur Mirza juga menyoroti arah pembangunan ekonomi nasional yang mulai bergeser menuju pendekatan bottom-up economy, dengan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Melalui kebijakan peningkatan harga komoditas pertanian, program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta penguatan ekonomi desa, pemerintah berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari tingkat bawah.
“Kalau ekonomi desa tumbuh, daya beli masyarakat meningkat, konsumsi naik, dan pada akhirnya akan menciptakan pasar yang lebih besar bagi dunia usaha,” katanya.
Ia menambahkan, realisasi investasi di Lampung menunjukkan tren positif. Pada 2025, nilai investasi yang masuk mencapai sekitar Rp15 triliun dan ditargetkan meningkat menjadi Rp20 triliun pada tahun berikutnya. Sejumlah investasi baru di sektor energi dan industri pengolahan juga mulai masuk ke Provinsi Lampung.
Meski demikian, Mirza mengingatkan bahwa peningkatan produktivitas sektor pertanian harus diimbangi dengan pertumbuhan industri hilir agar tidak terjadi kelebihan pasokan yang dapat menekan harga komoditas petani.
“Ketika produktivitas meningkat tetapi hilirisasi tidak berkembang, harga akan jatuh. Karena itu peluang investasi harus kita tangkap bersama agar pertumbuhan ekonomi Lampung semakin kuat dan berkelanjutan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua DPP Apindo Lampung, Ary Meizari Alfian, menyampaikan bahwa Musprov VIII tidak hanya menjadi forum pertanggungjawaban organisasi, tetapi juga momentum untuk menyusun arah strategis dunia usaha Lampung lima tahun ke depan.
Ary memaparkan sejumlah capaian organisasi selama masa kepengurusannya, antara lain penguatan advokasi ketenagakerjaan, pengembangan program UMKM Merdeka yang kemudian diadopsi menjadi program nasional Apindo, perluasan jejaring investasi, hingga penguatan kemitraan dengan berbagai lembaga nasional dan internasional.
Menurutnya, selama periode 2021–2026, Apindo Lampung telah melaksanakan lebih dari 200 kegiatan organisasi, membangun kemitraan dengan lebih dari 50 pemangku kepentingan strategis, serta merealisasikan lebih dari 90 persen program kerja yang telah ditetapkan.
Ia menegaskan bahwa Apindo Lampung akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan ekonomi, peningkatan investasi, pengembangan UMKM, serta penciptaan lapangan kerja di Provinsi Lampung.
