Bandar Lampung - Di bawah langit Lampung yang benderang, Ahmad Omar Almiawi dan Mahmoud Qubaja menemukan sesuatu yang selama ini hanya ada dalam angan-angan mereka kebebasan memeluk samudera. Bagi dua pemuda asal Palestina ini, akhir pekan di pertengahan Februari 2026 bukan sekadar jeda dari kurikulum pendidikan Universitas Pertahanan yang padat, melainkan mencari pengalaman baru di tanah Lampung.
Hadir atas undangan hangat Pangdam XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, kedua Kadet Universitas Pertahanan ini meluruhkan sejenak hiruk pikuknya kurikulum pendidikan.Pertemuan yang berlangsung pada Selasa (17/2/2026) itu menjadi gerbang bagi keduanya untuk menyelami wajah asli Indonesia.
Perjalanan berlanjut menuju Kabupaten Pesawaran, tepatnya ke Pulau Pahawang. Di sana, di hadapan air laut yang sebening kaca, sebuah momen mengharukan tercipta. Bagi Ahmad, butiran garam dan deburan ombak Pahawang adalah sebuah kemewahan yang ganjil.
“Seumur hidup, ini pertama kalinya saya berenang di laut,” ujar Ahmad dengan tatapan menerawang.
Pernyataan sederhana itu menyiratkan realitas getir di tanah kelahiran mereka. Di Palestina, akses menuju pesisir sering kali terhalang tembok beton dan pos penjagaan. Di Lampung, Ahmad dan Mahmoud tidak hanya berenang; mereka merayakan ruang gerak tanpa batas. “Kami sangat senang bisa menginap dan terjaga tepat di samping laut,” tambah Mahmoud dengan senyum lebar.
Tak hanya wisata bahari, dimensi spiritual dan sosial Indonesia turut mereka selami.
Kedua Kadet ini berkesempatan mengunjungi Vihara Amurwa Bhumi Graha dalam suasana perayaan Tahun Baru Imlek. Mereka menyaksikan langsung bagaimana doa-doa dipanjatkan dalam damai, di tengah masyarakat yang menjunjung tinggi persaudaraan lintas iman.
Selama berada di Lampung, Ahmad dan Mahmoud juga diperkenalkan pada adat istiadat setempat yang menjunjung tinggi nilai penghormatan kepada tamu. Mereka merasakan langsung falsafah nemui nyimah—tradisi menerima dan memuliakan tamu dengan ketulusan. Bagi masyarakat Lampung, tamu bukan sekadar pendatang, melainkan saudara yang harus dihormati. Sambutan hangat itu membuat keduanya merasa jauh dari kata asing, seolah menemukan keluarga baru di tanah perantauan.
Kekaguman mereka bertambah saat dikenalkan pada ragam seni budaya Lampung. Dari kain tapis dengan sulaman benang emas yang sarat makna—motif-motif yang melambangkan doa dan harapan—hingga alunan musik tradisional yang ritmis namun menenangkan. Bagi keduanya, seni budaya tersebut bukan sekadar pertunjukan, melainkan bahasa universal yang menyampaikan identitas, sejarah, dan kebanggaan sebuah masyarakat.
Pengalaman menyaksikan perayaan lintas keyakinan memperdalam kesan mereka tentang Indonesia.
Di Lampung, rumah ibadah berdiri berdampingan, dan masyarakat terbiasa hidup dalam perbedaan. Ucapan selamat hari raya disampaikan tulus meski berbeda iman. Bagi Ahmad dan Mahmoud, pemandangan itu menghadirkan harapan—bahwa harmoni antarumat beragama bukan sekadar konsep, melainkan sesuatu yang nyata dan bisa dirawat bersama.
Kehadiran kerabat dan sahabat baru di Lampung menjadi pelipur lara bagi kerinduan yang memuncak. Sejak Desember 2024, keduanya telah meninggalkan keluarga demi mengejar cita-cita di Universitas Pertahanan Indonesia. Mereka jmerupakan bagian dari 66 mahasiswa Palestina penerima beasiswa penuh dari Pemerintah Indonesia, yang menempuh pendidikan di bidang strategis seperti kedokteran, teknik, dan farmasi sebagai bekal membangun kembali negeri mereka kelak.
Kedua Kadet Unhan ini juga berkesempatan bertatap muka dengan Gubernur Lampung, Rachmat Mirzani Djazal. Lampung telah memberikan lebih dari sekadar pemandangan. Tanah Sai Bumi Ruwa Jurai menghadirkan memori tentang “laut pertama”, hangatnya persahabatan, kekayaan adat dan budaya, serta pelajaran toleransi. Dari pesisir Pahawang hingga rumah-rumah ibadah yang damai, mereka menemukan secuil harapan—bahwa kedamaian yang dirasakan di Indonesia suatu hari nanti juga akan menyentuh tanah Palestina.(**)
