Pergerakan Penumpang dan Kendaraan Nataru di Lampung Naik 11 Persen

 


BANDARLAMPUNG
– Posko Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang dimulai sejak 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 mencatatkan peningkatan signifikan pada pergerakan penumpang dan kendaraan di berbagai simpul transportasi di Provinsi Lampung.


Hal tersebut disampaikan, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Lampung, Bambang Sumbogo. Ia menyampaikan pelaksanaan Posko Nataru 2025–2026 Provinsi Lampung resmi berakhir.


Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Lampung, Bambang Sumbogo menjelaskan, total penumpang selama periode H-7 sampai H+10 tercatat sebanyak 616.696 orang, yang diperkirakan naik sekitar 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rabu (07/01/2026).


Selain jumlah kendaraan juga mengalami kenaikan 11 persen, sementara jumlah kapal yang beroperasi meningkat 4 persen.


“Puncak arus mudik tercatat terjadi pada H-4, dengan jumlah penumpang mencapai sekitar 38 ribu orang, atau naik sekitar 8 persen. Sementara itu, puncak arus balik terjadi pada periode setelah Tahun Baru dengan kenaikan mencapai 17 persen,” ujarnya. 


Di Terminal Rajabasa, peningkatan juga cukup signifikan. Jumlah penumpang tercatat naik hingga 27 persen, sementara jumlah armada meningkat 14 persen. Puncak aktivitas di terminal tersebut juga terjadi pada periode H-4 dan H+10. Kondisi terminal yang semakin tertata dinilai turut mendukung kelancaran pelayanan angkutan umum selama Nataru.


Untuk moda transportasi udara, Bandara Radin Inten II juga mengalami peningkatan aktivitas. Total penumpang tercatat naik sekitar 7 persen, dengan tingkat keterisian pesawat (load factor) bahkan mencapai hingga 96 persen pada hari tertentu.


Sementara itu, Stasiun Kereta Api mencatat kenaikan jumlah penumpang hingga 14 persen. Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, dilakukan penambahan gerbong baik untuk rute Rajabasa maupun Kuala Stabas agar pelayanan tetap optimal.



“Kemarin kita pelayanan untuk menambah gerbong, baik itu yang Rajabasa maupun yang Kuala Setabas jalan semua,” jelasnya.


Di sisi lain, terjadi pergeseran arus lalu lintas dari jalan tol ke jalan nasional. Hal ini dipengaruhi oleh kenaikan tarif tol hingga sekitar 27 persen serta adanya kecelakaan fatal pada 31 Desember, yang membuat sebagian kendaraan, terutama truk, kembali memilih jalur nasional.


“sekarang banyak truk-truk sudah mulai keluar jalan nasional lagi. ini yang harus kita antisipasi. Nanti pemeliharaan jalan-jalan nasional harus semakin tinggi, karena banyak yang berlintas lagi,” tambahnya.


Bambang juga menambahkan, selama periode Posko Nataru, tercatat 66 kejadian kecelakaan lalu lintas, dengan jumlah korban meninggal dunia sebanyak 21 orang. Data tersebut menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan keselamatan transportasi pada periode libur panjang berikutnya.